Perbedaan Mendasar dari Sistem Penjualan B2B dan B2C

B2B dan B2C

Dalam dunia e-commerce ada dua tipenya yang terkadang masih sering dianggap sama oleh banyak orang, yaitu B2B dan B2C. B2B merupakan singkatan dari Business to Business, sedangkan B2C merupakan singkatan dari Business to Consumer. Walau sama-sama melakukan transaksi jual beli di dunia maya, namun ternyata ada perbedaan mendasar antara dua tipe e-commerce ini.

1. Pangsa Pasar dari Masing-Masing e-commerce

Setiap e-commerce memiliki pangsa pasarnya tersendiri, termasuk juga kedua tipe e-commerce yang telah disebutkan sebelumnya. Sesuai namanya, e-commerce dengan tipe Business to Business, menjadikan pelaku bisnis lain atau suatu instansi sebagai mitranya. Sedangkan kalau e-commerce tipe Business to Consumer, pangsa pasarnya merupakan perorangan atau end-user.

e-commerce tipe Business to Business yang bisa ditemukan di Indonesia adalah seperti Blibli.com. Blibli.com menyediakan peluang bermitra bagi badan usaha, bank, serta instansi pemerintahan. Layanan dari Blibli.com berupa pemenuhan produk seperti peralatan kantor, alat elektronik, dan lainnya. Kemitraan ini akan memudahkan pemenuhan kebutuhan barang-barang tersebut.

2. Kuantitas Produk yang Dibutuhkan

Satu lagi perbedaan yang jelas terlihat antara dua jenis sistem penjualan ini adalah kuantitas produk yang dibutuhkan oleh konsumen atau pelanggan. Mengingat layanan Business to Business digunakan oleh sebuah badan usaha atau instansi pemerintahan, maka tak mengherankan kuantitas produk yang diminta besar. Semakin besar badan usaha, kuantitasnya pun semakin meningkat.

Berbeda dengan layanan Business to Business, layanan e-commerce seperti Business to Consumer biasanya melayani pemesanan produk dalam jumlah kecil. Hal ini tentu bisa dimengerti karena pangsa pasarnya adalah perorangan, yang hanya menggunakan barang untuk dirinya sendiri. Bulk order biasanya hanya dilakukan oleh konsumen yang ingin kembali menjual barang tersebut.

3. Kemitraan yang Terjalin Antara Penjual dan Pembeli

Perbedaan yang mencolok antara kedua layanan ini adalah hubungan kemitraan yang terjalin antara penyuplai barang dengan pembeli barang. Pelaku bisnis atau instansi pemerintahan yang telah menjalin kemitraan dengan suatu B2B e-commerce sepert Blibli.com, biasanya akan terus berlangganan. Hal ini dikarenakan telah ada kesepakatan yang dibuat antara kedua belah pihak.

Namun, pada layanan B2C yang disediakan oleh e-commerce, hubungan antara penjual barang dan pembeli hanya berlangsung singkat saja. Hubungan tersebut hanya sebatas pembelian barang, hingga barang sampai ke tangan konsumen. Kembali atau tidaknya konsumen pada produsen barang tersebut untuk membeli produk kembali, sama sekali belum bisa dipastikan.

4. Alasan Melakukan Pembelian Barang

Alasan membeli barang di e-commerce merupakan suatu perbedaan yang terlihat kentara antara dua tipe ini. Khusus untuk tipe Business to Business, biasanya pembelian barang didasarkan atas kebutuhan oleh suatu badan usaha atau pun instansi pemerintahan. Banyaknya barang yang akan dibeli pun sudah dianalisa sedemikian rupa, sehingga banyaknya barang tak lebih atau pun kurang.

Berbeda dengan Business to Business, pembelian untuk tipe Business to Costumer didasarkan atas kebutuhan pribadi semata. Hal ini dikarenakan yang akan menggunakannya adalah konsumen pribadi atau perorangan. Jadi, apa dan berapa banyak barang yang akan dibeli sesuai dengan yang dikehendaki oleh konsumen tersebut. Berguna atau tidaknya barang, tergantung pada konsumen.

Itulah tadi dua tipe layanan di e-commerce, B2B dan B2C yang selama ini istilahnya mungkin masih sering membingungkan banyak orang. Kedua tipe layanan e-commerce ini kebetulan bisa Anda temukan di Indonesia, yaitu di situs jual beli Blibli.com. Jika Anda membutuhkan barang untuk bisnis Anda, jangan ragu untuk segera menjalin mitra dengan Blibli.com.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *